Friday, June 25, 2010

Marcello Lippi

Marcello Lippi: Saya Gagal Melatih

Marcello Lippi. (ANTARA/REUTERS/Siphiwe Sibeko)
Johannesburg (ANTARA News) - Pelatih Italia Marcello Lippi menyatakan bertanggung jawab penuh atas tersingkirnya Italia dari putaran final Final Piala Dunia secara memalukan, dengan mengatakan dia tidak melatih cukup baik tim asuhannya itu.

Juara bertahan Italia kalah 3-2 dari tim debutan Piala Dunia Slowakia, yang lolos ke babak 16 besar bersama Uruguay, padahal Gruf F di mana Italia bercokol itu dianggap sebagai grup lemah.

"Saya menanggung semua tanggung jawab. Saya tidak menyiapkan tim ini dengan cukup baik," kata Lippi yang wajahnya merah (menahan malu) dalam jumpa pers yang tidak diselipi satu pun pertanyaan dari wartawan.

"Saya tidak memikirkan kami bisa memenangkan Piala Dunia, meski begitu saya menyangka kami akan tampil lebih baik."

Dalam satu penilairan terjujurnya mengenai apa yang telah terjadi, selama 15 menit mengungkapkan pernyataan yang mengungkapkan keterpukulannya.

"Saya gagal melatih tim dengan cukup baik, mereka tidak siap untuk laga sepenting itu. Saya kira, selama satu jam 15 menit, dan dari alasan-alasan psikologis, semuanya tidak berjalan," katanya.

Pria berusia 62 dan menjadi pahlawan yang mengantarkan Azzurri menjuarai Piala Dunia 2006, sudah menyatakan bakal mengundurkan diri setelah putaran final Piala Dunia 2010 selesai. Dia akan digantikan oleh Cesare Prandelli.

Lippi pertama kali mengundurkan diri dari pelatih timnas Italis setelah keberhasilan negara itu di Piala Dunia Jerman 2006, namun kembali lagi ke pasukannya pada 2008 setelah penampilan mengecewakan Italia di Piala Eropa yang saat itu diasuh Roberto Donadoni.

"Saya tidak menyesal kembali (melatih timnas), saya kembali dengan antusiasme yang besar," tambahnya.

Lippi mendapat kecaman pedas dari media Itali setelah hanya bisa bermain seri 1-1 dengan dua lawan terdahulunya. Dia menyatakan belum berhasrat melatih sepakbola lagi.

"Saya akan istirahat beberapa bulan dan kita lihat saja nanti." katanya.

Jumat, 25 Juni 2010 00:49 WIB

FIFA World Cup 2010

Inggris Lolos Berkat Keberanian Capello

Kekhawatiran Inggris gagal lolos ke babak 16 besar -- seperti yang dialami Prancis -- tak terjadi. Gol tunggal Jermain Defoe memenangkan The Three Lions 1-0 atas Slovenia pada pertandingan terakhir di Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth, satu jam lalu. Kuncinya? Keberanian pelatih Fabio Capello dalam meramu skuad dan memberikan kepercayaan pada pemain.

Setelah hanya meraih dua hasil imbang -- dengan Amerika Serikat 1-1 dan 0-0 melawan Aljazair -- posisi Inggris mengkhawatirkan sebelum laga melawan Slovenia. Hanya kemenangan yang bisa meloloskan mereka ke babak berikutnya.

Tahu dengan kondisi ini, Capello melakukan langkah cukup mengejutkan. Pelatih asal Italia itu merombak susunan starting eleven. Matthew Upson, James Milner, dan Jerman Defoe masuk sejak awal menggantikan Jamie Carragher yang absen karena akumulasi kartu, Aaron Lennon yang tak maksimal di sektor sayap kanan, serta Emile Heskey yang lebih banyak jadi 'pengganggu' konsentrasi lawan di dua pertandingan pertama.

Perubahan ini berjalan cukup baik meski tak bisa dibilang maksimal. Gerrard bergerak leluasa di kanan dan berganti posisi dengan sayap kiri yang diisi Milner. Wayne Rooney berduet dengan Defoe di depan.

Hasilnya, dua pemain 'baru' -- Milner dan Defoe -- andil dalam terjadinya gol semata wayang di menit ke-22. Umpan Milner dari sisi kanan langsung disambar Defoe.

Langkah berani kembali dilakukan Capello ketika menarik Rooney di menit ke-72 digantikan Joe Cole. Harapannya, eks-pemain Chelsea itu bisa mencari peluang dengan skillnya. Capello juga berusaha mencari alternatif serangan dengan memasukkan Heskey menggantikan Defoe di menit ke-86. Sayang, dua pergantian ini tak menghasilkan.

Dari penampilan malam ini menunjukkan Inggris masih punya masalah di lini depan, hal yang tak terjadi ketika kualifikasi. Dari 10 pertandingan, Inggris menang 9 kali dan hanya kalah 1 kali dengan catatan gol 34 memasukkan dan hanya kemasukan 6 gol. Penampilan Inggris-pun sejauh ini belum seimpresif Brasil atau Argentina atau Belanda.

Setidaknya, keberanian Don Fabio meramu skuad untuk menemukan formula yang pas harus diberi selamat. Capello mengatakan kepada Reuters sesudah pertandingan, "Pikiran kami kini sudah bebas, tak ada lagi ketakutan."

Fase grup sudah dilewati. Meski menang, Inggris hanya berada di posisi runner-up grup kalah selisih gol dari Amerika yang membungkam Aljazair 1-0 berkat gol Landon Donovan di menit terakhir. Artinya, mereka bakal bertemu juara Grup D yang masih diperebutkan Ghana, Jerman, dan Serbia.

Arrivederci Gli Azzurri

Siapa pun yang menyaksikan laga Slowakia vs Italia, Kamis (24/6) malam waktu Indonesia, niscaya tak akan melupakan pertandingan itu. Mahkota Italia, juara Piala Dunia 2006, tergelincir di stadion Ellis Park, Johannesburg, Afrika Selatan.

Kalahnya Italia merubuhkan 'mitos' Piala Dunia: tak ada finalis Piala Dunia sebelumnya yang tak lolos ke putaran kedua di Piala Dunia selanjutnya. Kali ini justru 180 derajat berbeda. Dua finalis lalu, Prancis dan Italia yang beradu penalti pada 2006 di Jerman, harus pulang begitu cepat.

Gli Azzurri datang ke Afrika dengan membawa skuad pilihan Marcello Lippi. Sembilan orang di antara mereka berumur lebih dari tiga dekade. Banyak yang meragukan pasukan 'tuir' ini. Bukan hanya karena umur. Sejak menekuk Swedia di laga persahabatan akhir tahun lalu, Italia tak pernah menang lagi. Lima kali seri, dua kali kalah.

Di babak penyisihan kali ini, tiga laga Italia di Grup F selalu dimulai dengan kebobolan. Dua kali berhasil bangkit menyamakan skor 1-1 pada laga dengan Paraguay maupun Selandia Baru. Di laga ketiga, pertandingan penentuan, Italia tak mampu menyamakan skor, meski perjuangan mereka benar-benar hingga titik darah penghabisan.

Slowakia memimpin di menit ke-25 saat gawang Federico Marchetti, menggantikan Buffon yang cedera, dijebol Robert Vittek, yang menyambar operan tak akurat Daniele de Rossi. Skor itu bertahan hingga babak berganti. Pada menit ke-73, Vittek menambah golnya. Dengan posisi 2-0, Slowakia sudah di atas angin. Ketegangan menguar. Tergambar jelas di wajah Lippi.

Antonio Di Natale memecah ketegangan, membuka harapan dengan gol perdana. Namun delapan menit kemudian di menit 88, Kamil Kopunek memasukkan gol ketiga. Fabio Quagliarella mencetak gol kedua Italia di menit tambahan. Slowakia mengulur-ulur waktu dengan berbagai cara, yang mengakibatkan Italia frustrasi dan tegang, yang terwujud pada gagalnya sepakan Simone Pepe yang posisinya sudah cukup bagus dari kiper Vladimir Weiss.

Pertandingan berakhir dengan tangis di kubu Italia. Marcello Lippi segera balik kanan ke arah ruang ganti. Sang jenderal lapangan, Fabio Cannavaro, bisa menahan emosi namun segera lenyap dari lapangan. Slovakia merayakannya dengan membentuk lingkaran dan bersorak-sorai. Ini kali kedua mereka sampai ke Piala Dunia, dan kali pertama lolos ke putaran kedua.

Ah, apa mungkin tanah Afrika Selatan tak suka dengan warna biru? Mungkin kita harus bertanya pada rumput hijau yang bergoyang di lapangan Ellis Park.

Setelah mengucap au revoir pada Les Bleus, maka kini kita ucapkan pada Gli Azzurri: arrivederci..

Jum, 25-Jun 00:42 WIT

Pemain Italy

Manajer
Marcello Lippi

Bermain Gol Kartu Merah Kartu Kuning

Penjaga gawang

12 Federico Marchetti 3 0 0 0
1 Gianluigi Buffon 1 0 0 0
14 Morgan De Sanctis 0 0 0 0

Bek

5 Fabio Cannavaro 3 0 0 1
19 Gianluca Zambrotta 3 0 0 0
4 Giorgio Chiellini 3 0 0 1
3 Domenico Criscito 3 0 0 0
2 Christian Maggio 1 0 0 0
13 Salvatore Bocchetti 0 0 0 0
23 Leonardo Bonucci 0 0 0 0

Gelandang

6 Daniele De Rossi 3 1 0 0
7 Simone Pepe 3 0 0 1
22 Riccardo Montolivo 3 0 0 0
16 Mauro Camoranesi 2 0 0 1
15 Claudio Marchisio 2 0 0 0
8 Gennaro Gattuso 1 0 0 0
21 Andrea Pirlo 1 0 0 0
17 Angelo Palombo 0 0 0 0

Pemain depan

9 Vincenzo Iaquinta 3 1 0 0
10 Antonio Di Natale 3 1 0 0
11 Alberto Gilardino 2 0 0 0
20 Giampaolo Pazzini 1 0 0 0
18 Fabio Quagliarella 1 1 0 1