Wednesday, June 30, 2010

Waktunya Pelatih Asli Inggris

Tuntutan Fabio Capello untuk mundur mulai disuarakan. Alasannya apalagi kalau bukan lantaran terhentinya langkah Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 2010 oleh tim muda Jerman 4-1, kemarin malam. Kekalahan terburuk Inggris selama keikutsertaan di turnamen besar.

Manajer Tottenham Hotspur Harry Redknapp menjadi yang paling keras bersuara. Ia mengatakan sudah waktunya Inggris dilatih pelatih "dalam negeri" bukan olah pelatih asing. Capello yang ditunjuk sejak 2004 dan mendapat gaji 6 juta pound sterling per tahun merupakan pelatih asing kedua yang pernah menangani The Three Lions. Sebelumnya ada nama Sven-Goran Eriksson (2001-2006) dari Swedia.

"Coba Anda bayangkan seorang pelatih Inggris menangani timnas Italia. Itu tidak mungkin terjadi. Jerman juga begitu. Mereka mempunyai pelatih orang Jerman. Sedangkan kita sudah dua kali ditangani pelatih asing."

"Orang ini (Capello) mempunyai catatan bagus di tingkat klub. Tapi lihat, kita harus menerima kenyataan pahit ini sekarang. Ketika dia terus berlanjut, dalam empat tahun atau kapan pun, akan ada orang muda yang bermunculan dari negeri ini. Sudah saatnya mencari pelatih asal Inggris."

Soal prestasi, Capello sebenarnya justru paling baik dari semua pelatih Inggris yang pernah ada. Dari 28 pertandingan 19 diantaranya berujung kemenangan, 4 kali seri, dan hanya 5 kali kalah (67,9%). Catatan ini lebih baik dari Sir Alf Ramsey yang mencatat 69 menang, 27 seri, dan 17 kalah di 113 pertandingan (61,1%) meski kelebihannya Sir Alf memberikan gelar juara dunia tahun 1966.

Capello sendiri mengatakan ia takkan turun dari kursinya, meski ia mengaku akan bertemu bos Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Davie Richards, untuk membicarakan posisinya.

"Saya akan berbicara dengan ketua (FA) untuk memutuskan masa depan saya. Tergantung apakah bisa meyakinkan saya atau tidak."

Pelatih memang sasaran tembak paling empuk jika sebuah tim mengalami kegagalan....

Brazil

Siapa Bilang Brasil Tak Lagi Indah...?

Sejak Carlos Dunga ditunjuk sebagai pelatih Brasil banyak kritikan yang dilontarkan. Brasil dinilai tak lagi indah, Brasil sekarang bukanlah Brasil yang memainkan tradisi sepak bola jogo bonito sepak bola menyerang dari kaki ke kaki, Brasil sekarang disebut tak lagi bergoyang ala Samba -- tarian khas yang melekat sangat erat dengan gerakan indah, eksotik, dan erotis.

Sejak Dunga datang, Brasil hanyalah sebuah tim yang bermain efektif dan hanya mementingkan kemenangan. Socrates -- kapten tim Brasil pada Piala Dunia 1982 -- bahkan sampai menyebut Dunga telah mengubah dan menghina "pakem" sepak bola Brasil.

Penampilan dinamis, skill individu menawan, dan menyerang menjadi alasan utama mengapa Brasil mencatat rekor lima kali juara Piala Dunia. Namun filosofi ini sedikit dimodifikasi sejak kedatangan Dunga pada 2006. Inilah yang dikritik Socrates.

Tapi Dunga dan pasukannya menjawab tudingan itu tadi malam dengan mengalahkan Cile 3-1. Meski tak semurni tim Brasil 1970 -- tim yang dinilai sebagai tim terbaik yang pernah ada -- namun Kaka dkk menampilkan permainan yang super enak ditonton.

Maicon, Lucio, Juan, dan Michel Bastos begitu disiplin menjaga barisan belakang. Gilberto Silva, Dani Alves -- yang dimainkan sebagai gelandang -- serta Ramires, meyokong di serbuan Kaka, Robinho, dan Luis Fabiano. Gilberto Melo, Kleberson, dan Nilmar yang masuk belakang juga tak kalah apik. Hasilnya, gol Juan (35), Luis Fabiano (38) dan Robinho (59) menyeruak ke gawang Claudio Bravo.

Inilah kali pertama -- setidaknya di Piala Dunia -- kita menyaksikan Brasil tampil lebih attraktif. Di fase grup -- Korea Utara, Pantai Gading, bahkan Portugal -- diklaim lebih bertahan saat bertemu selecao. Tapi Cile bukanlah Korea Uyara, Pantai Gading, atau Portugal.

Saya salut dengan asuhan Marcelo Bielsa ini. Sejarah dan catatan rekor mereka kalah jauh dibandingkan Brasil, tapi mereka tak perduli soal itu. Alexis Sanchez, Arturo Vidal, Humberto Suazo terus berusaha merangsek meski akhirnya kalah. Ini terbukti dari statistik. Cile melakukan 15 usaha mencetak gol, hanya terpaut dua di bawah Brasil yang melakukan 17 tendangan. Jempol buat Cile.

"Kekuatan Brasil terlalu berat buat kami. Kami tak mampu menahan mereka," kataa Marcelo Bielsa.

Satu tiket sudah di tangan Brasil. Lawan berat menunggu di perempat final; Belanda, tim yang juga memiliki talenta sepadan. The Oranje melangkah mulus sejak babak grup. Denmark (2-0), Jepang (1-0), Kamerun (2-1), dan Slovakia (2-1), gagal menghadang langkah pasukan Bert van Marwijk ini.

Brasil vs Belanda, sebuah partai yang jangan sampai Anda lewatkan. Dua tim dengan dua kiblat, dua gaya, dan dua pakem berbeda -- tapi satu kesamaan menyerang -- akan saling bertemu.

Ada maling ...

Maling Sikat Tujuh Trofi Piala Dunia dari Markas FIFA.

Maling ternyata tak hanya menggasak uang dari hotel tim Inggris. Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) juga tak terkecuali jadi korban kemalingan. Tak tanggung-tanggung tangan usil itu mengambil tujuh buah replika trofi Piala Dunia. Tujuh!

Komisaris polisi Afrika Selatan Jenderal Bheki Cele, Selasa (29/6), mengatakan pencuri memasuki markas FIFA di Johannesburg dan membawa tujuh buah trofi. Selain itu beberapa potong pakaian offisial FIFA juga tak ketingggalan diambil. Cele mengatakan pihaknya masih mengejar si pencuri yang disebutnya "orang dalam" dan tahu dengan baik kantor FIFA di sana.

Padahal kantor FIFA di kota itu terletak di Sandton, sebuah kawasan elit sebagai utara Johannesburg.

spain vs portugal

Villa strike sends Spain into last eight
June 29, 2010 -- Updated 2203 GMT (0603 HKT)
David Villa slots the winning goal past Portugal goalkeeper Eduardo as Spain made the World Cup quarterfinals.

(CNN) -- David Villa was Spain's hero yet again as his goal helped them past Portugal and into the last eight of the World Cup.

The Barcelona striker registered his fourth goal of the competition just after the hour as he stabbed a shot past Portugal goalkeeper Eduardo.

It was just reward for Spain's endeavor against a largely defensive Portugal team, who struggled to get Cristiano Ronaldo into the game.

Villa's strike should have been added to but Spain squandered a clutch of clear cut chances.

Vicente Del Bosque's side will now face Paraguay in the last eight, after the South American side beat Japan on penalties.

Liverpool striker Fernando Torres nearly opened his account at the World Cup inside the first minute as he forced Portugal keeper Eduardo into a smart save.

Torres' strike partner Villa was the next to test the keeper, who beat away his low shot. Just four minutes later Villa's near post effort tested Eduardo again.

Portugal's first opportunity came in the 20th minute as Spain keeper Iker Casillas parried Tiago's shot into the air before punching clear when striker Hugo Almeida tried to turn the ball home.

Ronaldo tested Casillas with a free-kick from distance and the keeper spilled his powerful shot, before Almeida should have scored when he rose to meet Fabio Coentrao's cross from the left.

Five minutes after the break Almeida burst down the left and his cross took a defection off Carles Puyol and looped just past the post with Casillas beaten.

Torres was taken off for Fernando Llorente just before the hour mark and the Athletic Bilbao striker almost scored with his first touch, but his header from point blank range was saved by Eduardo.

In the 63rd minute Spain made the breakthrough, through a goal made in Barcelona. Andres Iniesta found Xavi, whose flick found Villa, and though his first shot was saved, he tucked the rebound home off the underside of the bar.

Real Madrid defender Sergio Ramos nearly made it two soon after but his low shot was brilliantly turned behind by Eduardo.

Danny had half a chance to equalize as the ball broke in the area but Joan Capdevila made a superb block.

Seconds later Ricardo Costa was sent off for an apparent elbow on Capdevila, and the red card signaled the end of Portugal's World Cup hopes.